Home / Mengenal GKP

Mengenal GKP

Nama Gereja Kristen Pasundan yang disebut dalam Tata Gereja GKP menunjukkan kepada”Christelijke Kerk Van West;Jaza” sebagaimana disebut dalam Surat Keputusan Pemerintah tertanggal 8 April 1936 No.:15. Stbl 176. GP, yang kemudian ditegaskan dalam Surat Keterangan Departemen Agama RI, Dirjen Bimas Kristen/Protestan tanggal 30 Oktober 1970 No. Dd/P/VII/72/807/70, melaksanakan panggilannya di wilayah Jawa Bagian Barat meliputi Propinsi Jawa Barat dan Daerah Khusus Ibukota Jakarta. GKP terbuka bagi semua orang dari berbagai suku dan bangsa yang tinggal di Jawa Bagian Barat dan terpanggil untuk mewujudkan hidup persekutuan, pelayanan dan kesaksiannya di wilayah ini. Dalam rangka melaksanakan tugas dan panggilannya GKP mengembangkan pemahaman akan budaya masyarakat di wilayahnya.

Kantor Sinode GKP berkedudukan di Bandung dengan alamat Jln. Dewi Sartika No. 119 Bandung, 40252, Jawa Barat. Selaku Gereja yang berdiri sendiri sebagai satu Sinode pada 14 Nopember 1934, GKP secara terus menerus menunaikan panggilannya, sampai kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya. Dalam menunaikan panggilannya sebagai bagian dari Gereja yang Esa, Kudus dan Am di dunia, GKP mengembangkan kebersamaan dan bekerja sama dengan gereja lain dan lembaga mitra, baik di dalam maupun luar negeri.

Gereja Kristen Pasundan sebagai Gereja memiliki Pengakuan, Ajaran dan Panggilan sebagai berikut:

  1. Pengakuan
    GKP menyatakan pengakuannya melalui Anggota Jemaatnya baik sebagai persekutuan maupun sebagai pribadi. Pengakuan itu diwujudkan melalui kehidupan persekutuan Anggota Jemaat dan setiap Anggota Jemaat. Dalam persekutuan dengan Gereja dari segala abad dan tempat, GKP menghayati dan mengikrarkan Pengakuan Iman Rasuli dan Pengakuan Iman Nicea Konstantinopel. Dalam persekutuan dengan gereja-gereja di Indonesia, GKP menerima Pemahaman Bersama Iman Kristen Persekutuan Gereja- Gereja di Indonesia (PBIK-PGI).
  2. Ajaran
    GKP hidup dan berkembang dalam ajaran tradisi Gereja Reformasi yang diawali oleh Martin Luther, dilanjutkan dan dikembangkan oleh Johanes Calvin, selanjutnya dibawa oleh Nederlandsche Zendingvereeniging (NZV) ke wilayah Pasundan. Karena itu GKP merupakan Gereja Protestan. Dalam mengembangkan ajarannya ketika berhadapan dan bersentuhan dengan aliran di dalam dan di sekitar gereja, perkembangan ilmu pengetahuan, agama, budaya dan hal lainnya, GKP menyelenggarakan Konven Pendeta untuk merumuskan dan melahirkan Konvensi GKP, yang menjadi sikap dan pandangan GKP. Mengenai pelaksanaan Konvensi Pendeta, diatur lebih lanjut. Ajaran GKP mewarnai dan memberi arah bagi GKP dan segenap bagiannya dalam menunaikan panggilannya.
  3. Panggilan Bersekutu
    Seluruh dan setiap Anggota Jemaat terpanggil untuk bersekutu dengan Tuhan dan sesama orang percaya , yaitu tindakan nyata untuk memungkinkan berlangsungnya relasi dengan Tuhan dan sesama orang percaya dan dalam keterbukaan dengan sesama manusia.
    Persekutuan ini dilaksanakan, antara lain melalui hal sebagai berikut:

    • Hidup beribadah yang dilakukan dalam kehidupan pribadi dan kehidupan kebersamaan dalam lingkup jemaat, sinode maupun wadah-wadah oikumenis.
    • Hidup yang saling menghargai dan saling menerima dengan sesama baik pribadi maupun kelompok.
    • Keikutsertaan dalam bentuk-bentuk kerjasama yang bertujuan untuk mendatangkan kebaikan dan kebenaran bagi sesama manusia.
  4. Panggilan Melayani
    Seluruh dan setiap Anggota Jemaat terpanggil untuk melayani dihadapan Tuhan dan sesama yaitu tindakan nyata untuk memungkinkan kasih Kristus dialami oleh sesama baik didalam maupun diluar lingkungan Gereja. Pelayanan ini dilaksanakan antara lain melalui:

    • Hidup yang saling membantu di antara sesama Anggota Jemaat GKP maupun sesama Gereja Tuhan.
    • Berbagai tindakan yang membantu sesama manusia sebagai pribadi atau kelompok dalam memenuhi kebutuhan seutuhnya yang mendatangkan damai sejahtera.
  5. Panggilan Bersaksi
    Seluruh dan setiap Anggota Jemaat terpanggil untuk bersaksi dihadapan Tuhan dan sesama yaitu pernyataan iman orang percaya yang memungkinkan orang mengenal kasih dan keselamatan dalam Yesus Kristus yang disediakan untuk semua manusia.
    Kesaksian ini dilaksanakan antara lain melalui:

    • Hidup yang mencerminkan kasih Kristus baik sebagai pribadi maupun persekutuan.
    • Berbagai tindakan yang menyatakan kasih dan keselamatan dari Kristus dengan perkataan dan perbuatan.
  6. Pembinaan
    Pembinaan adalah upaya yang dilakukan secara terarah, terncana dan terpadu agar tiap-tiap Anggota Jemaat dimampukan untuk mewujudkan imannya melalui persekutuan, pelayanan, kesaksian dalam lingkungan Gereja dan Masyarakat. Pembinaan dilaksanakan dengan mengembangkan Triwawasan GKP, yaitu Wawasan Ke-GKP-an, Wawasan Oikoumenis, dan Wawasan Kebangsaan-Kemasyarakatan.
    Pembinaan dilalukan dalam bentuk:

    • penyelenggaraan Kebaktian
    • pelayanan Sakramen
    • pelaksanaan Penggembalaan
    • pelaksanaan Katekisasi
    • pelaksanaan kegiatan lainnya sesuai dengan tujuan pembinaan.
  7. Pengembangan
    Dalam mengembangkan Trikemandirian GKP, GKP mewujudkan dan mengupayakan pembangunan Jemaat dan Gereja agar bertumbuh di daalam segala hal kearah Yesus Kristus, Kepala Gereja (Efesus 4:15) dengan mengembangkan berbagai talenta yang telah Tuhan berikan (Matius 24: 14-30) sehingga menjadi berkat bagi sesama (Matius 25:31-46). Pembangunan Jemaat dan Gereja di bidang teologia diwujudkan dalam pengembangan ajaran, Tata Kebaktian, dan etika, dengan memperhatikan konteks dan perkembangan zaman. Pengembangan Jemaat dan Gereja di bidang daya diwujudkan dengan memperhatikan, menggali, dan mengembangkan potensi segenap warga GKP sebagai upaya mempersiapkan warga GKP, agar memiliki spiritualitas yang tinggi, professional dan menjadi berkat bagi sesama. Pembangunan Jemaat dan Gereja di bidang dana dilakukan melalui pembinaan warga GKP untuk meningkatkan pemahaman yang benar mengenai persembahan dan pengembangan ekonomi warga Jemaat.
  8. Asas Bermasyarakatan, Berbangsa dan Bernegara.
    Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, GKP berazaskan Pancasila. Dengan menerima dan menghayati Pancasila, GKP memiliki tanggung jawab:

    • Melaksanakan, ketentuan dan peraturan yang dibangun atas dasar falsafah Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
    • Berperan secara positif, kreatif, kritis dan realistis dalam memberi landasan moral, etika dan spiritual bagi pembangunan masyarakat dan Bangsa.
    • Bersama dengan berbagai komponen bangsa turut menjaga dan mempertahankan Pancasila agar tetap menjadi dasar Negara Republik Indonesia.
  9. Kebaktian, dan Sakramen
    • Jenis Kebaktian:
      • Kebaktian Minggu adalah Kebaktian yang diselenggarakan pada hari Minggu di rumah ibadah.
      • Kebaktian Rumah Tangga adalah Kebaktian yang bersifat Pembinaan dan pendalaman iman Anggota Jemaat yang diselenggarakan secara bergilir di rumah Anggota Jemaat
      • Kebaktian Hari Raya Gerejawi adalah Kebaktian yang diselenggarakan untuk memperingati Hari Raya Gerejawi, seperti Natal, Jumat Agung, Paskah, Kenaikan Tuhan Yesus dan Pentakosta
      • Kebaktian Khusus adalah Kebaktian yang diselenggarakan dalam acara pemberkatan pernikahan, pemakaman, penghiburan, pengucapan syukur, penahbisan, peresmian, pengutusan, emeritasi Pendeta, pembukaan dan penutupan rapat/sidang di Jemaat/Sinode, hari raya nasional, dan oikoumenis
      • Kebaktian Jemaat lainnya yang diselenggarakan oleh Majelis Jemaat.
      • Kebaktian Kategorial adalah Kebaktian yang diselenggarakan bagi kategori tertentu, seperti Kebaktian anak, remaja, pemuda, perempuan, laki-laki dan lanjut usia, pelajar/mahasiswa, dan TNI-POLRI serta pelayan kesehatan, pendidikan, dan lain-lain.
      • Kebaktian lainnya adalah Kebaktian yang diselenggarakan oleh pribadi, keluarga, dan kelompok orang percaya sebagai perwujudan tanggungjawabnya untuk memelihara iman percayanya dan mengungkapkan rasa syukurnya.
    • Penanggung Jawab Kebaktian:
      • Penanggung jawab penyelenggaraan Kebaktian Jemaat dan Kebaktian Kategorial di lingkungan Jemaat adalah Majelis Jemaat.
      • Penanggung Jawab penyelenggaraan Kebaktian Khusus dalam rangka kebersamaan Sinodal adalah Majelis Jemaat dan Majelis Sinode.
      • Penanggung Jawab penyelenggaraan Kebaktian Khusus dalam rangka kebersamaan Klasikal adalah Majelis Jemaat dan Badan Pelaksana Klasis.
      • Penanggung jawab penyelenggaraan kebaktian lainnya adalah pimpinan lembaga/pihak penyelenggara.
    • Tata Kebaktian
      Dalam rangka pelaksanaan Kebaktian digunakan Tata Kebaktian berdasarkan Ajaran GKP, yaitu:

      • Tata Kebaktian yang digunakan oleh seluruh bagian GKP dibuat oleh dan berada dalam tanggung jawab Majelis Sinode.
      • Tata Kebaktian untuk pelayanan Jemaat, yang belum/tidak disiapkan oleh Majelis Sinode, dibuat oleh dan berada dalam tanggung jawab Majelis Jemaat.
      • Tata Kebaktian lain yang belum/tidak disiapkan oleh Majelis Sinode atau Majelis Jemaat, dibuat dan berada dalam tanggung jawab penyelenggara kebaktian sesuai dengan lingkupnya masing-masing.
  10. Syarat Baptisan
    • GKP menyelenggarakan Baptisan Kudus atas dasar perjanjian Allah di dalam Yesus Kristus, Pengakuan Iman dan Janji Baptisan.
    • GKP menyelenggarakan Baptis Dewasa, yaitu Baptisan yang diselenggarakan berdasarkan Pengakuan Iman dan Janji Baptisan yang bersangkutan.
    • GKP menyelenggarakan Baptis Anak yang diselenggarakan berdasarkan Pengakuan Iman dan Janji Baptisan orang tuanya.
    • Syarat Baptis Dewasa:
      • Telah mengikuti katekisasi sesuai ketentuan.
      • Berusia paling sedikit 17 (tujuh belas) tahun.
      • Mengikuti persiapan yang diselenggarakan Majelis Jemaat.
    • Syarat Baptis Anak:
      • Memiliki Akta Kelahiran.
      • Salah satu orang tuanya adalah Anggota Sidi Jemaat yang bersangkutan dan tidak kehilangan haknya sehubungan dengan ketentuan penggembalaan khusus.
      • Jika orang tuanya adalah Anggota Sidi dari gereja yang seajaran dengan GKP, mengajukan surat permohonan pelayanan dari gereja yang bersangkutan.
      • Mengikuti persiapan yang diselenggarakan Majelis Jemaat.
    • Persiapan Penyelenggaraan Baptisan kudus
      • Rencana penyelenggaraan Baptisan Kudus diumumkan kepada Jemaat dalam Kebaktian Minggu dengan maksud diketahui secara dini guna memberi kesempatan pendaftaran pada Anggota Jemaat untuk mengikuti Baptisan Kudus tersebut.
      • Majelis Jemaat mengadakan percakapan dan pertemuan dengan orang tua yang hendak membawa anaknya untuk dibaptiskan dan calon baptis dewasa yang hendak menyatakan Pengakuan Iman dan Baptisan Bewasa.
      • Percakapan penggembalaan bagi orang tua meliputi:
        • Persyaratan Baptisan Anak.
        • Tanggung jawab orang tua Kristen.
      • Percakapan penggembalaan bagi calon Baptis Dewasa, meliputi:
        • Persyaratan Baptisan Dewasa.
        • Tanggung jawab sebagai Anggota Sidi Jemaat.
      • Pertemuan untuk persiapan teknis pelaksanaan baptisan.
        Nama-nama calon yang akan Baptis Dewasa diwartakan dalam dua Kebaktian Minggu secara berturut-turut. Nama anak-anak yang akan dibaptis beserta nama-nama orang tuanya diwartakan dalam satu Kebaktian Minggu. Pewartaan di lakukan dengan maksud memberi kesempatan kepada Jemaat untuk mendoakan dan menyampaikan tanggapannya pada Majelis Jemaat. Jika ada keberatan yang disampaikan pada Majelis Jemaat. Majelis Jemaat dapat meneliti keberatan atas hal itu untuk menentukn dapat tidaknya yang bersangkutan menerima Baptisan.
    • Pelaksanaan Baptisan Kudus
      • Baptisan Kudus diselenggarakan dalam tanggung jawab Majelis Jemaat dan dilayani Pendeta dengan 3 (tiga) kali percikan air, dalam nama Allah Bapak, anak dan Roh Kudus.
      • Baptisan Kudus dilakukan dalam Kebaktian Minggu dengan mempergunakan Tata Kebaktian yang ditetapkan oleh Majelis Sinode.
      • Bagi mereka yang keadaan fisiknya tidak memungkinkan datang ke rumah ibadah, dilayani secara khusus. Pelayanan secara khusus ini dilakukan dalam rangka Baptisan yang dilakukan dalam Kebaktian Minggu.
      • Kepada yang dibaptis, diberikan Surat Baptisan
    • Dalam rangka kehidupan oikumenis maka
      • GKP terbuka untuk melayani Baptisan Kudus bagi anggota gereja lain yang seajaran dengan surat permohonan pelayanan dari gereja yang bersangkutan.
      • GKP mengakui sahnya baptisan yang dilakukan oleh gereja lain yang dalakukan dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus.
      • GKP terbuka menerima pelayanan Baptisan oleh Pendeta dari gereja lain yang seajaran dengan GKP dan dilakukan dengan tata cara GKP.
      • Pendeta GKP terbuka untuk melayani Baptisan Kudus di gereja lain yang seajaran dengan GKP.
    • Pengakuan Iman / Sidi
      • Pengakuan Iman/Sidi adalah keputusan yang diambil secara sadar oleh setiap Anggota Baptis atau seseorang yang mengaku iman secara pribadi di hadapan Tuhan dan JemaatNya.
      • Dalam hal seseorang adalah Anggota Jemaat/gereja lain, Pengakuan Iman/Sidi dilakukan berdasarkan surat permohonan Majelis Jemaat yang bersangkutan dan status keanggotaan yang bersangkutan tetap berada di Jemaat/gereja asalnya.
      • Untuk dapat melakukan Pengakuan Iman/Sidi, seseorang harus mengikuti katekisasi Sidi dan persiapan Sidi. Untuk dapat mengikuti Katekisasi Sidi, seseorang telah berusia 15 (lima belas) tahun atau sudah duduk di sekolah lanjutan tingkat atas.
      • Pengakuan Iman/Sidi dilaksanakan dalam suatu Kebaktian Minggu setelah diwartakan dalam Kebaktian Minggu, 2 (dua) minggu berturut-turut , dengan mempergunakan Tata Kebaktian yang ditetapkan oleh Majelis Sinode.
      • Anggota Baptis yang sudah melakukan Pengakuan Iman/Sidi statusnya menjadi Anggota Sidi Jemaat.
      • Seseorang yang telah melakukan Pengakuan Iman/Sidi dan menerima Baptis Dewasa dinyatakan sebagai Anggota Sidi Jemaat.
      • GKP mengakui sahnya Pengakuan Iman/Sidi yang dilakukan gereja yang seajaran dengan GKP.
  11. Katekisasi
    • Katekisasi adalah sarana pembinaan untuk memperlengkapi seseorang dengan pengetahuan dasar dan penghayatan firman Tuhan agar dapat bersikap dan berkelakuan sesuai dengan iman Kristiani, ajaran, dan pola hidup persekutuan GKP.
    • Katekisasi diselenggarakan oleh Majelis Jemaat sesuai dengan Peraturan Sinode tentang Panduan Katekisasi yang ditetapkan Majelis Sinode.
    • Katekisasi diselenggaraakan dalam tanggung jawab Majelis Jemaat dan dalam koordinasi Pendetan Jemaat.
    • Jenis-jenis katekisasi:
      • Katekisasi Remaja adalah katekisasi yang diselenggarakan untuk usia remaja sebagai persiapan sidi.
      • Katekisasi Sidi adalah katekisasi yang diselenggarakan sebagai kelanjutan Katekisasi Remaja untuk melaksanakan Pengakuan Iman/Sidi.
      • Katekisasi Khusus adalah katekisasi yang diperuntukkan bagi:
        • Orang yang berasal dari agama lain.
        • Orang yang berasal dari gereja tidak seajaran dengan GKP.
        • Orang yang memiliki keterbatasan fisik dan mental.
        • Orang yang akan kembali ke persekutuan Jemaat.
  12. Perjamuan Kudus
    • Persiapan Perjamuan Kudus:
      • Sebelum dilaksanakan Perjamuan Kudus, Majelis Jemaat mengumumkan waktu diselenggarakannya pelayanan Sakramen Perjamuan Kudus melalui warta Jemaat dalam Kebaktian Minggu, 2 (dua) minggu berturut-turut.
      • Majelis Jemaat mempersiapkan Anggota Sidi Jemaatnya untuk meneguhkan pemahaman dan penghayatan makna Perjamuan Kudus melalui Kebaktian Rumah Tangga, Kebaktian Khusus, dan/atau perkunjungan/pelawatan.
    • Peserta Perjamuan Kudus:
      • Anggota Sidi GKP Jemaat yang bersangkutan.
      • Anggota Sidi GKP Jemaat lain atau gereja lain yang seajaran dengan GKP, dengan mengisi formulir yang disediakan oleh Majelis Jemaat, sebelum kebaktian dimulai.
      • Anggota Sidi yang dimaksud adalah Anggota Sidi yang tidak kehilangan haknya sehubungan dengan ketentuan Penggembalaan Khusus.
    • Pelaksanaan Perjamuan Kudus:
      • Perjamuan Kudus dalam lingkungan GKP dilaksanakan oleh dan berada dalam tanggung jawab Majelis Jemaat. Pelayanan Perjamuan Kudus dilayani oleh pendeta dengan menggunakan roti dan air anggur atau air putih/teh bagi yang kesehatannya tidak memungkinkan.
      • Perjamuan Kudus di Jemaat dirayakan paling sedikit 4 (empat) kali setahun:
        • Perjamuan Kudus dalam rangka Jumat Agung (Maret/April)
        • Perjamuan Kudus dalam rangka Hari Pekabaran Injil GKP (Minggu kedua juli)
        • Perjamuan Kudus dalam rangka Hari Perjamuan Kudus se-Dunia dan Hari Pekabaran Injil Indonesia (Minggu pertama OKtober)
        • Perjamuan Kudus dalam rangka akhir/awal tahun.
      • Perjamuan Kudus dapat dirayakan sehubungan dengan kegiatan-kegiatan khusus dalam rangka kebersamaan GKP maupun oikoumenis.
      • Perjamuan Kudus dirayakan dalam Kebaktian Jemaat dengan menggunakan Tata Kebaktian yang ditetapkan oleh Majelis Sinode GKP.
      • Bagi Anggota Jemaat yang keadaan fisiknya tidak memungkinkan datang ke rumah ibadat, dilakukan pelayanan Perjamuan Kudus secara khusus. Pelayanan khusus ini dilakukan segera setelah pelayanan Perjamuan Kudus yang dilaksanakan di rumah ibadat.
      • GKP terbuka untuk menerima pelayanan Perjamuan Kudus yang dilayani oleh pendeta gereja lain yang seajaran dengan GKP dengan menggunakan Tata Kebaktian GKP dan tata cara GKP.
      • Pendeta GKP terbuka untuk melayani Perjamuan Kudus di gereja lain yang seajaran dengan GKP dengan menggunakan Tata Kebaktian gereja yang bersangkutan.
  13. Keanggotaan
    • Anggota Baptis:
      • Anggota Baptis adalah Anggota Jemaat yang telah menerima pelayanan Baptis Anak.
      • Anak Anggota Jemaat wajib dibaptiskan sesegera mungkin
      • Anak Anggota Jemaat yang dapat menerima Baptisan Anak adalah anak usia bayi sampai dengan usia 15 (lima belas) tahun. Jika usia anak lebih dari 15 (lima belas) tahun, anak tersebut dipersiapkan untuk mengikuti katekisasi Sidi.
      • Setiap anak yang dibaptiskaan mendapat Surat Baptisan, dan namanya dicatat dalam Buku Induk Jemaat.
    • Anggota Sidi adalah Anggota Baptis yang telah mengikrarkan Pengakuan Iman-nya atau seseorang yang telah menerima pelayanan Baptis Dewasa.
    • Cara menjadi anggota jemaat:
      • Baptisan Kudus.
      • Perpindahan Anggota Jemaat dari Jemaat GKP lainnya atau gereja lain yang seajaran dengan GKP dengan menyerahkan surat atestasi/surat pindah.
      • Permohonan tertulis dari yang bersangkutan.
    • Keputusan penerimaan seseorang mengjadi Anggota Jemaat di Suatu Jemaat berada pada Majelis Jemaat yang bersangkutan.
    • Anak anggota jemaat dinyatakan menjadi anggota jemaat baptis setelah mendapat pelayanan baptis anak.
    • Seseorang yang telah dewasa atau berusia lebih dari 17 (tujuh belas) tahun dapat menjadi Anggota Jemaat melalui Baptis Dewasa setelah mengikuti Katekisasi Sidi atau Katekisasi Khusus.