Home / Sejarah GKP Lembang

Sejarah GKP Lembang

Sebuah perusahaan susu sapi yang terletak di Pasir Yunghun Lembang bernama : DBB (DE BATAVCHC BUER) kepunyaan Tuan GB. WALTER, mempunyai beberapa ratus sapi yang diurus oleh berpuluh-puluh orang pekerja. Dari sekian pekerja adalah seorang bernama AMINTA. Adapun Tuan GB. WALTER yang menjadi majikannya mempunyai saudara seorang Pendeta bernama : J. IKEN  BERTEMPAT TINGGAL DI Bandung. Karena mempunyai hubungan kekeluargaan dengan pemilik perusahaan tersebut, Pendeta itu sering berkunjung ke Lembang. Pada saat berkunjung itulah Pendeta J. IKEN sering bertemu dan kadang-kadang bercakat-cakap secara bertukar pikiran dengan Pak AMINTA mengenai keagamaan. Salah satu yang ditanyakan oleh Pendeta adalah : “Apakah AMINTA sudah mempunyai Juru Selamat?”

Picture1Sebagai seorang Kristen, Tuan GB. WALTER dan keluarganya tiap-tiap Hari Minggu selalu pergi ke Bandung guna mendengarkan Firman Tuhan di Protestant Kerk (sekarang GPIB Jalan Wastukencana nomor 1 Bandung ).

Pada suatu hari Pak Aminta pun ikut bersama mereka untuk mencoba masuk Gereja. Setelah sampai di perapatan Jalan Kebonjati, pak AMINTA melihat orang-orang yang berkumpul di depan sebuah Gereja (Jemaat GKP Bandung) yang kebetulan Kebaktian belum dimulai. Seolah-olah ada tenaga yang menggerakkan untuk turun dan ikut bersama-sama dengan orang-orang yang ada di depan Gereja itu, lebih-lebih setelah mendengar keterangan bahwa mereka itu adalah orang-orang Kristen yang kebanyakan terdiri dari suku Sunda, yang akhirnya pak AMINTA minta izin untuk turun di situ saja dan diizinkan oleh Tuan GB. WALTER dan Pak  Aminta pun turun sedangkan Tuan GB. WALTER dan keluarganya terus menuju Jalan Wastukencana.

Sungguh suatu khotbah yang isinya sangat menarik serta dimengerti yang pada saat itu sedang disampaikan oleh Bapak Pendeta MADI SAREAN, dengan bahasa pengantar bahasa daerah yaitu Bahasa Sunda, yang menjadikan pak AMINTA tertarik.

Roh Kudus terus bekerja di dalam hati sehingga timbul suatu keinginan untuk mendalami serta belajar hidup di dalam kekristenan. Dengan mendapat bimbingan, penyiraman serta pemupukan yang tiada hentinya dari hamba Tuhan yaitu Bapak J. ANIRUN dan Bapak KARTAWANGSA meskipun kadang-kadang harus bermalam di Lembang, maka akhirnya pada Tahun 1935 pak AMINTA dan keluarganya dipermandikan setelah mendapat pelajaran Katekisasi dari Pendeta MADI SAREAN.

Maka terang telah menerangi hati yang masih dalam kegelapan, dan sungguh suatu bibit telah tumbuh di Lembang sebagai tanda kasih Tuhan kepada mereka yang mencariNya.

Kemudian bibit itu tumbuh dengan suburnya dan menghasilkan buah yaitu seorang buruh lain bernama KASIM, menyusul sebagai menerima Kristus sebagai Juru Selamatnya dengan jalan membaca sebuah majalah berbahasa Sunda yaitu majalah “ PAMUKA RASA “ yang diterbitkan oleh GKP Bandung dengan Redaktur Bapak J. ELIA dengan pembantunya Bapak J. ANIRUN, dimana disitu ditemukan sebuah ayat yang terdapat pada Injil Yahya 14 : 6 yang berbunyi : “NYA KAMI ANU JADI JALAN, KAYAKTIAN SARTA HIRUP. MOAL AYA ANU DATANG KA RAMA KAJABA LANTARAN KAMI“. (Aku inilah jalan, kebenaran dan hidup. Seoangpun tiada sampai kepada Bapak kecuali dengan Aku). Ayat inilah yang membawa pak KASIM mau menerima Kristus sebagai Juru Selamatnya terbukti pada Tahun 1937 pak KASIM dipermandikan setelah mendapat pelajaran Katekisasi dari Bapak pendeta MADI SAREAN  yang kemudian menyusul isterinya masih tahun itu juga setelah mendapat pelajaran Katekisasi dari Nona Klara. Seterusnya menyusul orang-orang yang lainnya untuk bersama-sama mengakui bahwa hanya Yesus Kristuslah Penebus dosa isi dunia ini.

Picture2Untuk supaya tiap Hari Minggu selalu dapat mendengarkan Firman Tuhan maka dari Tahun 1935 sampai dengan Tahun 1942 mereka harus setiap hari Minggu pergi ke Gereja Pasundan Bandung. Tetapi atas kebijaksanaan pengurus dari jemaat Bandung, maka pada pertengahan Tahun 1942 mereka tidak usah ke Bandung lagi karena kebaktian Hari Minggu diadakan di rumah Pak  AMINTA dengan pengkotbah tetap yaitu Bapak J. ANIRUN atau Bapak KARTAWANGSA.

Tahun 1945 keadaan di Negara kita menghadapi Revolusi Kemerdekaan sehingga dalam tahun itu dan Ta hun 1946 tidak ada kegiatan karena harus mengungsi ke Kasomalang (Kabupaten Subang). Baru pada Tahun 1947 mereka pulang kembali ke Lembang dan Kebaktianpun kembali diadakan dan mengambil tempat sampai Tahun 1948 di sebuah gudang yang terletak di sebelah utara Gereja sekarang.

Saat iitu sudah mulai ada Sekolah Minggu dan Kebaktian Anak-anak yang dipimpin oleh Bapak Christian Djalimun yang dibantu oleh Bapak Sukiran dan Bapak Joses Atje. Pada Tahun 1948 tempat Kebaktian kembali pindah yaitu ke tempat bekas kediaman Tuan GB. WALTER (bangunan gedung Gereja yang lama) karena Tuan GB. WALTER pindah ke komplek perusahaan sebelah selatan, dan beliau meninggal dunia pada tanggal 7 Oktober 1952.

Adapun keadaan Jemaat pada Tahun 1955 sudah mencapai 20 orang yang terdiri dari Jemaat baru dan sebagian Jemaat pendatang. Meskipun sudah berjumlah 20 orang tetapi masih tetap sebagai Pos Pekabaran Injil dari GKP Bandung, baru setelah dibentuk Majelis Gereja pada tanggal 17 Juli 1955 Pos Pekabaran Injil di lembang diresmikan menjadi Gereja penuh. Mengenai bangunan yang dipakai itu, Jemaat statusnya meminjam yang sewaktu waktu bila perlu dikembalikan kepada pemiliknya yaitu Tuan GB. WALTER atau keluarganya.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun, ladang yang tadinya kosong sekarang sudah banyak ditumbuhi yang makin lama makin bertambah, meskipun pada tanggal 23 Agustus 1964 Pak AMINTA sebagai bibit pertama telah dipanggil pulang untuk menghadap ke hadirat-Nya.

Picture3Suatu saat yang bahagia bagi Jemaat Lembang, karena pada tanggal 14 Mei 1970 S.E. WALTER anak dari tuan GB. WALTER menghibahkan tanah (luas 3000m2) dan bangunan yang sedang dipakai kebaktian itu kepada Jemaat Lembang.

Keadaan bangunan waktu itu dihibahkan dalam keadaan rusak 60%. Hal ini Jemaat berhasrat untuk merombaknya sehingga bentuknya sesuai dengan bentuk bangunan gereja. Tetapi Jemaat terbentur dalam soal biaya mengingat kehidupan social dari jemaat Lembang terdiri dari buruh tani dan anggota ABRI pendatang. Tetapi keinginan untuk mempunyai tempat kebaktian, selalu berkobar dalam hati Jemaat, ditambah dengan perkataan sesepuh kami Bapak pendeta J. ANIRUN dalam suatu kotbahnya pada waktu genapnya Gereja Lembang 17 tahun berdiri. Beliau secara diplomasi mengajak untuk supaya pembangunan dimulai, mengingat usia 17 tahun bagi anak-anak itu sudah memasuki alam kedewasaan. Inilah suatu perumpamaan untuk Jemaat Lembang sebagai Jemaat yang sudah dewasa secara umur.

Langkah pertama mencari biaya adalah dengan dibentuknya Panitia Bazar, dan Bazarpun dilaksanakan pada tanggal 22 juli 1971 dan menghasilkan uang sebesar Rp 21.620,-

Selanjutnya atas saran salah seorang Jemaat supaya segera dibentuk Panitia Pembangunan Gedung Gereja Pasundan Lembang, hal ini mendapat tanggapan yang serius dari pihak Majelis Gereja Lembang. Maka pada Bulan Juli 1973 dibentuklah Panitia Pembangunan Gedung Gereja Lembang Atas pilihan Jemaat sendiri.

Pada tanggal 5 Agustus 1973 kembali bazaar diadakan sehubungan dengan Hari ulang Tahun berdirinya Jemaat Lembang yang ke 18 yang diselenggarakan oleh Panitia Pembangunan dan menghasilkan uang sebesar Rp 53.000,-

Dengan bermodalkan biaya sebesar Rp 74.620,- disertai dengan kepercayaan “ BAHWA SEGALA PEKERJAAN, DEMI KEMULYAAN TUHAN, PASTI AKAN BERHASIL “ maka pada tanggal 4 Pebruari 1974 pembangunan dimulai yaitu Picture4dengan merombak bangunan bagian belakang untuk dijadikan tempat kebaktian sementara menunggu bangunan gereja yang baru selesai. Pada tahun 1980 bangunan tersebut telah dapat digunakan dengan berkat dan dukungan seluruh anggota jemaat serta para donatur.

Sejak berdirinya Jemaat GKP Lembang pada tanggal 17 Juli 1955 belum memiliki Pendeta Jemaat yang definitive, hanya dilayani oleh Pendeta Konsulen. Pada Tahun 1983 Majelis Sinode menempatkan seorang Vikaris yang dipersiapkan menjadi Pendeta Jemaat yaitu Bapak Pdt. Picture5Sukaiman Jian yang ditahbiskan pada Tahun 1985 dan masa pelayanannya sampai dengan tahun 1993.

Pada tahun 1995 diteguhkan Pendeta ke 2 yaitu Bapak Pdt. Ferly David, S.Th. yang masa pelayanannya sampai dengan tahun 2000.

Pada periode 1995-2000, berkat kasih karunia Tuhan Allah, GKP Jemaat Lembang dapat melaksanakan penataan pekarangan yang semula digunakan untuk berkebun, dengan maksud mempersiapkan pembangunan gereja dan lingkungannya. Puji syukur dapat terlaksana pembentengan komplek gereja dan pengurusan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) dan gedung gereja yang disempurnakan menjadi gedung gereja yang ada sekarang yang dilaksanakan pada Tahun 2004.

Pada tahun 2000, Bpk. Pdt. Eddy Setiady Djalimoen, Sm.Th, diteguhkan menjadi Pendeta Jemaat ke-3 GKP Jemaat Lembang. Dalam masa penggembalaan beliau, GKP Jemaat Lembang kembali merenovasi gedung gereja.

Pada tanggal 19 September 2008, Bpk. Pdt. Agus Paulus Husen, S.Th, diteguhkan menjadi Pendeta Jemaat GKP Lembang. Dan sejarah pembangunan gedung Gereja pun berlanjut.  

Pelaksanaan pembasngunan saat ini adalah merupakan kelanjutan dari pembangunan tahun 2004/2005 berupa ruang konsistori, Ruang Majelis, Ruang Rapat seluas 130 m2 x 3 lantai, jumlah seluruh 390 m2.