Home / Renungan / Mengejar Kesempurnaan

Mengejar Kesempurnaan

1 Tesalonika 3: 9– 13

Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di  hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus,Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya (1 Tesalonika 3: 13)

                 Sebelum sebuah barang keluar pabrik yang memproduksinya, biasanya ada proses pemerikasaan kualitas dari barang tersebut atau biasa disebut proses quality control. Dalam proses pemeriksaan kualitas tersebut, maka petugas memeriksa barang produksi apakah sudah sesuai dengan standar dari pabrik atau tidak. Proses ini dimaksudkan agar barang yang akhirnya sampai ke tangan konsumen, benar– benar baik dan tidak memiliki cacat produksi. Harapannya tentu, bukan saja tercapai kepuasan konsumen, tetapi juga agar nama baik dari produsen tetap terjaga.

Sebagai respon atas berita yang dibawa oleh Timotius tentang kondisi iman dan kasih yang dimiliki oleh jemaat (lht ay. 6), Rasul Paulus menyampaikan keinginannya untuk bertemu dengan jemaat. Berita tentang jemaat Tesalonika, bahkan menjadi sebuah penghiburan tersendiri bagi Paulus (ay. 7) dan membuatnya bersukacita serta bersyukur kepada Tuhan. Paulus juga menyampaikan betapa ia terus menerus mendoakan Jemaat Tesalonika supaya terus mengalami pertumbuhan iman dan kasih (ay. 10, 12) dan memohon kepada Tuhan agar memberinya kesempatan datang ke Tesalonika. Selanjutnya, Paulus menyampaikan harapan agar jemaat memiliki satu kondisi hidup yang “tak bercacat dan kudus” di hadapan Allah. Kondisi yang lantas Paulus kaitkan dengan pengharapan akan kedatangan Kristus kembali (ay. 13b).

Frase “supaya tak bercacat dan kudus” yang menjadi perhatian kita hari ini, merupakan penerjemahan dari kata amemptos (tak bercacat; bahasa Inggris: blameless, unblamable) dan kata hagiosune (kudus; bahasa Inggris: sacredness, the quality of holiness). Frase ini dalam Alkitab BIMK (Bahasa Indonesia Masa Kini, LAI) diterjemahkan menjadi “sehingga kalian suci dan tidak tercela”, atau dengan kata lain adanya tuntutan untuk “menjadi sempurna”. Hal ini mengingatkan kita pada perintah Tuhan Yesus sendiri dalam Injil Matius 5: 48, “karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna”. (kata “sempurna” dalam bahasa Yunani adalah teleios. Kata ini yang memiliki arti: complete (dalam berbagai aspek, termasuk adanya pertumbuhan mental, moral dan karakter yang baik).

Mari kita sedikit mengulik kata “sempurna” dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi “excellence” yang rupanya dapat dipahami sebagai suatu “kualitas untuk selalu menjadi yang terbaik”. Kata “excellence” itu sendiri memiliki kata kerja dasar “to excel” yang memiliki pengertian “suatu usaha/ proses untuk menjadi lebih baik dari”. Berangkat dari penjelasan singkat ini, maka “menjadi sempurna” atau “tidak bercacat dan kudus” dapatlah dipahami sebagai sebuah usaha untuk dapat menjadi lebih baik dari keadaan sebelumnya, untuk memiliki kualitas yang lebih, dan sebuah usaha terbaik yang dapat kita lakukan dengan daya upaya yang ada. Dalam kacamata iman, maka mengejar “kesempurnaan” atau kondisi “tak bercacat dan kudus” ini adalah sebuah panggilan bahkan keharusan untuk dilakukan oleh orang percaya sampai Tuhan panggil kita kembali ke rumah Bapa di sorga atau sampai kedatangan Kristus kembali.

Upaya untuk mengejar kesempurnaan seperti penjelasan di atas, haruslah kita lakukan dalam seluruh aspek kehidupan sebagai umat Allah, termasuk juga di dalam kehidupan berkeluarga dan berumah tangga (perhatikan kembali isi kotbah di hari Minggu yang lalu!). Usaha untuk mencapai “kesempurnaan” atau kondisi “tak bercacat dan kudus” dilakukan dengan menyelaraskan seluruh hidup kita, dan apapun yang dilakukan di dalamnya, dengan kehendak Allah itu sendiri. Usaha untuk melakukan segala sesuatu hanya bagi Tuhan (bdk. Kolose 3: 17) adalah usaha untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak Tuhan dan bagi kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus. Demikianlah juga kita lakukan di dalam hidup rumah tangga, pernikahan dan hidup berkeluarga kita masing– masing.

Hubungan suami dengan istri, orangtua dengan anak, dan hubungan antar saudara bersaudara haruslah dibangun dalam konteks “tak bercacat dan kudus” atau “sempurna” supaya nama Tuhan kita Yesus dipermuliakan, dan dilakukan setiap saat secara terus menerus sampai kedatangan Tuhan Yesus kembali. Hubungan yang dibangun hubungan yang didasarkan pada cinta kasih Tuhan Yesus sendiri, hubungan saling setia, penuh cinta kasih, saling menghargai dan membangun sebagai keluarga milik Allah sendiri. Tentu saja, hal ini bukanlah perkara yang mudah. Ada banyak tantangan, hambatan dan bahkan mungkin godaan untuk mewujudkannya. Hanya dengan pertolongan Roh Kudus dan dengan keinginan serta tekad yang kuat, maka keluarga– keluarga Kristen dapat mewujudkan panggilan hidupnya untuk sempurna di hadapan Allah.

Pertanyaan Untuk didiskusikan:  

  1. Tantangan dan hambatan apa saja yang dewasa ini sering dialami oleh keluarga– keluarga Kristen untuk mewujudkan kondisi hidup “tak bercacat dan kudus” atau “sempurna” di hadapan Allah?
  2. Upaya dan usaha apa saja yang dapat dilakukan oleh anggota– anggota keluarga Kristen untuk dapat hidup tak bercacat dan kudus di hadapan Allah? (AAS)

Check Also

Pengharapan Kepada Yesus Memberi Hidup Sesungguhnya

1 Korintus 15: 12– 20 Ayat– ayat di dalam 1 Korintus pasal 15 ini, khususnya …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *