Home / Renungan / Saya pemimpin! Dia juga!

Saya pemimpin! Dia juga!

1 Timotius 1: 3– 4

Ketika aku hendak meneruskan perjalananku ke wilayah Makedonia,

Aku telah mendesak engkau supaya engkau tinggal dan menasihatkan

Orang– orang tertentu, agar mereka jangan mengajarkan ajaran lain

(1 Timotius 1: 3)

John C. Maxwell pernah melakukan survei tentang bagaimana seseorang dapat menjadi seorang pemimpin. Dari hasil survei didapat bahwa seorang pemimpin dihasilkan karena faktor– faktor berikut;

  1. Akibat Krisis (5%)
  2. Karunia alami (10%)
  3. Pengaruh pemimpin (85%)

Dari hasil survei tersebut menerangkan bahwa bila seseorang ,menjadi pemimpin dan ternyata ia sangat dipengaruhi oleh pemimpin lainnya, maka orang tersebut tidak dapat dengan sendirinya menjadi pemimpin. Hal ini disebabkan karena ia tergantung pada orang lain. Kehadiran orang lain menjadi penguat seseorang dapat melaksanakan tugasnya sebagai seorang pemimpin. Kepemimpinan dalam lingkup kehidupan bergereja dikenal sebagai kepemimpinan yang melayani. Memimpin untuk melayani sesama, mementingkan dan mengutamakan orang lain daripada kepentingan diri sendiri.

Paulus memberikan teladan sebagai seorang rasul pada saat itu kepada Timotius dan memberikan kesempatan kepada Timotius untuk memiliki peran yang sama dengan Paulus meskipun usia mereka terpaut cukup jauh. Sebagai seorang yang telah menjalani banyak pengalaman, Paulus tidak terjebak pada keakuan diri, tetapi sebaliknya ia mau berbagi.

Paulus mengingatkan Timotius akan tugas istimewa yang dipercayakan kepadanya, sewaktu dia mendesaknya untuk tinggal di Efesus. Dia hendak menegor mereka yang cenderung berpaling ke ajaran palsu dan sia– sia, dan memanggil mereka kepada hidup Kristen yang murni dan taat. Inilah salah satu cara Paulus meregerasi kepemimpinan dalam pelayanannya kepada Timotius. Paulus memberdayakan Timotius segaligus mendelegasikan tugas kepadanya. Paulus paham betul bahwa perlu adanya regenerasi dalam pelayanan, sehingga ia dengan tulus hati dan sukacita mau berbagi. Bahkan, di lain kesempatan Paulus menguatkan Timotius dan mengatakan bahwa jangan sampai ada seorangpun menganggap Timotius rendah karena ia muda, tetapi justru dalam kemudaanya, Timotius harus jadi teladan bagi orang– orang percaya (bdk.4:12)

Kepercayaan, pemberdayaan dan pendelegasian merupakan beberapa cara untuk meregenerasikan kepemimpinan baik di dalam maupun di luar pelayanan. Seringkali orang terjebak dalam kepentingan diri sehingga begitu sulit berbagi dengan orang lain. Sikap tidak mau tersaingi dan terkalahkan dengan orang yang baru akan menghambat terjadinya regenerasi dalam kepemimpinan. Dalam lingkup pelayanan di gereja, regenerasi kepemimpinan seringkali dihadapkan pada masalah klasik. Antara lain adanya perasaan tidak siap dari anggota jemaat untuk mengambil bagian dalam pelayanan, ada perasaan tidak mampu, atau ada atau tidaknya ruang kesempatan untuk memulai. Padahal seseorang dapat menjadi seorang pemimpin karena ada dukungan dan pengaruh dari orang lain.

Semua orang adalah pemimpin, diberikan anugrah dan talenta masing– masing sesuai dengan kehendak-Nya, oleh sebab itu tiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan tugas panggilannya. Jangan pernah merasa bahwa hanya kita yang bisa melakukan segala hal, karena orang lain pun dapat melakukannya. Berilah kesempatan kepada oarng lain sehingga tongkat estafet kepemimpinan itu tetap berjalan

Untuk didiskusikan: 

  1. Dalam kehidupan berjemaat, berikan beberapa contoh yang menyebabkan regenerasi kepemimpinan itu terhambat?
  2. Menurut Saudara mengapa regenerasi kepemimpinan itu penting? Jelaskan! (YSW)

 

Check Also

Pengharapan Kepada Yesus Memberi Hidup Sesungguhnya

1 Korintus 15: 12– 20 Ayat– ayat di dalam 1 Korintus pasal 15 ini, khususnya …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *