Home / Renungan / Kekuatan Relasi

Kekuatan Relasi

Yakobus 5: 13– 16

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan,

Supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar,

Bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya

(Yakobus 5: 16)

Relasi memiliki kekuatan yang besar. Bila terpelihara dengan baik akan berdampak postif. Misalnya relasi kakak dan adik, jika rukun dan damai maka dua orang bersaudara itu akan saling membantu dan saling menopang. Sebaliknya, relasi yang terganggu akan berdampak negative. Misalnya relasi murid dengan gurunya. Seorang anak yang tidak menerima bahwa ia diberi sanksi oleh guru matematikanya karena bercanda di kelas saat belajar, maka sebelum berdamai, anak itu akan menganggap bahwa pelajaran matematika paling menjemukan dan hasil belajarnya pun tidak akan pernah memuaskan.

Bacaan kita saaat ini hendak menjelaskan hal serupa. Bagaimana relasi kita dengan Tuhan dan sesama akan berdampak pada kehidupan kita. Dalam relasi yang harmonis dengan Tuhan dan sesama akan terwujud kehidupan yang saling membantu dan saling menopang. Bila ada sesama kita yang menderita, sudah sepantasnya kita mendoakannya (ay.13a). Relasi yang baik melahirkan rasa senasib sepenanggungan. Kegembiraan orang lain akan menjadi kebahagian kita juga (ay. 13b). Namun bila relasi terganggu maka kita akan kehilangan kepedulian kepada orang lain, bahkan seseorang bisa tertawa saat saudaranya mendapat musibah. Relasi yang sehat akan selalu melahirkan perbuatan yang membawa kebaikan, seperti dicontohkan dalam bacaan kita: bila ada seorang yang sakit, sesamanya akan memanggil seorang panatua untuk mendoakannya (ay. 14).

Relasi yang baik sangat ditentukan oleh kesedian untuk saling mnerima, baik kelebihan maupun kekurangan. Kita harus menyadari bahwa sesama kita, bahkan orang terdekat sekalipun, bisa bersalah dan melukai hati. Maka kita harus selalu siap untuk mengampuni, dalam arti tidak menyimpan kebencian dan dendam, serta mau menerima kembali siapapun yang berbalik dengan niat baik untuk memperbaiki kesalahannya. Di sini kita melihat bahwa iman seseorang tidak hanya ditentukan oleh kesalehan pribadi, tetapi juga kualitas relasinya dengan orang lain. Hal ini diperhitungkan oleh Tuhan, sehingga Tuhan mendengar dan menjawab doa yang benar, yakni mereka yang saling mengampuni dan hidup rukun (ay. 15– 16).

Mengingat bahwa relasi yang baik punya kekuatan besar maka baiklah kita memupuk segala potensi yang bisa membuat relasi satu dengan yang lain semakin erat dan akrab. Sebaliknya, bila kita melihat benih– benih yang melemahkan relasi kita dengan sesama, segera atasi dan jauhkan agar tidak tumbuh menjadi hambatan yang besar yang akan merusak hubungan yang baik yang telah terpelihara sebelumnya.

Untuk didiskusikan: 

  1. Bagaiman merawat relasi agar tetap harmonis di tengah relasi perbedaan yang ada?
  2. Mengapa kita sulit menerima kembali orang yang pernah bersalah kepada kita? (EMT)

Check Also

Pengharapan Kepada Yesus Memberi Hidup Sesungguhnya

1 Korintus 15: 12– 20 Ayat– ayat di dalam 1 Korintus pasal 15 ini, khususnya …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *