Home / Renungan / Penanganan Konflik: Fokus Kepada Akar Persoalan

Penanganan Konflik: Fokus Kepada Akar Persoalan

Kisah Para Rasul 6: 1– 7

Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus,

Seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus,

Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang

Penganut agama Yahudi dari Antiokhia

(Kisah 6: 5)

 Konflik berasal dari kata latin Confligere yang berarti ‘percikan api’. Pada zaman dahulu orang membuat api dengan cara menggesekkan dua batu, lalu terciptalah percikan api. Percikan api itu tidak bahaya bagi dirinya sendiri jika dikelola dengan baik, karena akan menciptakan api unggun dan berguna untuk memasak nasi, mendidhikan air dan manfaat lainnya. Namun sebaliknya, jika tidak dikelola dengan tidak tepat dan benar, maka percikan api tersebut dapat membakar dan menghanguskan.

Konflik dalam sebuah jemaat atau gereja dianggap sebagai sesuatu yang wajar sebagai bentuk dinamika jemaat atau gereja yang terus bertumbuh. Dengan adanya konflik maka menjadi pembelajaran bagi semua pihak untuk menyadari akan keberadaan mereka dalam sebuah persekutuan. Bila konflik ditangani dengan baik, maka menghasilkan persekutuan yang saling menghargai satu dengan yang lain. Bagian dalam jemaat dapat menjaga diri dan bersikap dewasa agar konflik serupa tidak terulang, bahkan bersikap dewasa dalam menghadapi konflik lainnya. Namun, tidak dapat disangkal tatkala konflik tersebut tidak bisa ditangani dengan baik maka yang terjadi adalah sebuah kehancuran. Sejarah gereja di Indonesia mencatat bahwa beberapa gereja harus terpecah karena konflik internal yang tidak tertangani dengan baik. Oleh karena itu dalam menghadapi suatu persoalan atau masalah dalam sebuah jemaat atau gereja diperlukan suatu cara yang tepat. Seperti apa? Mari kita pelajari dari pembacaan Firman Tuhan saat ini.

Kisah Para Rasul 6: 1-7 menceritakan sebuah situasi yang menyebabkan terjadinya pertengkaran. Ayat 1 menuliskan, “pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut– sungut di antara orang– orang Yahudi yang berbahasa Yunani, terhadap orang– orang Ibrani, karena pembagian kepada janda– janda mereka  diabaikan dalam pelayanan sehari– hari”. Jemaat mula– mula  di Yerusalem yang menyalurkan uang dan makanan kepada janda– janda miskin, nampaknya mulai pilih kasih. Kemungkinan mereka adalah kelompok mayoritas orang Kristiani Yahudi yang berbahsa Aram. Mereka ini kurang menyukai orang Yahudi yang memakai bahasa Yunani sebagai bahasa ibu. Prasangka atau ketidaksukaan ini dibawa ke dalam gereja sehingga para janda kaum yang lebih minoritas itu terabaikan. Hal ini membuat orang– orang Kristen berkebangsaan Yahudi yang berbahsa Yunani mulai gusar dan mengeluh. Sedikit demi sedikit emosi terus meninggi.

Masalah besar akan timbul bila masalah ini tidak segera diselesaikan. Dalam ayat 2 diungkapkan bahwa, “Berhubung dengan itu keduabelas rasul itu memanggil semua murid berkumpul…”. Para rasul telah belajar banyak dari Tuhan Yesus, Sang Guru, sehingga mereka tidak terjebak dalam konflik, misalnya memarahi para murid lainnya yang dianggap tidak adil atau menegur pihak lainnya yang dianggap terlalu sensitif. Melainkan mengajak murid– murid (jemaat) berkupul dan memcahkan persoalan bersama. Dengan rendah hati, para rasul berkata: “Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja” (ay.2b). Selanjutnya para rasul fokus pada akar masalah dan cara penyelesaian. Ayat 3 menuliskan, “Karena itu, saudara– saudara pilihlah tujuh orang dari antaramu,  yang terkenal baik, dan penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu”. Karena cara pendekatan dan penyelesaian konflik yang dilakukan para rasul itu tepat ke akar persoalan maka jemaat m,enyetujuinya. Maka terpilihlah tujuh orang yanmg kemudian bertugas melayani orang– orang miskin yang ada di jemaat (ay. 5-6). Konsekuensi logis dari penyelesaian konflik yang tepat dapat kita lihat di ayat 7, maka, “Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak…”.

Dengan demikian dapat disimpulkan ada tiga hal yang dilakukan para rasul dan jemaat di Yerusalem untuk menyelesaikan konflik yang timbul.

  1. Menghadapi masalah. Ketika para rasul mendengar bahwa orang Yahudi yang berbahsa Yunani mengeluh, mereka segera bertindak. Mereka tidak menyembunyikan masalah ini dibawah bantal dan berharap masalah selesai dengan sendirinya. Mereka juga tidak membela diri, atau menyalahkan pihak– pihak lain yang terlibat konflik. Sebaliknya, mereka mengumpulkan jemaat sehingga setiap orang tahu apa yang terjadi. Setiap orang diberi ruang yang sama untuk melihat secara jernih apa yang menjadi persoalan.
  2. Bertindak dan merangkul. Para rasul melihat apa yang menjadi akar persoalan karena itu mereka mengusulkan cara pemecahan dari konflik yang muncul, “Karena itu, saudara– saudar, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan himat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman.” para rasul melihat dengan jelas bahwa mereka harus memberi prioritas pada doa dan Firman. Mereka menyimpulkan bahwa tanggung jawab menyalurkan makanan harus ditangani oleh orang– orang Kristiani yang dapat dipercaya. Mereka melibatkan jemaat dengan meminta mereka memilih tujuh orang yang akan menangani pelayanan ini.
  3. Rasa percaya. Jemaat yang mengikuti para rasul, mengambil langkah berikutnya dengan memilih tujuh orang dari kelompok minoritas untuk mengatur tugas harian. Kita mengetahui hal ini, karena setiap orang yang terpilih mempunyai nama Yunani.

Untuk didiskusikan: 

  1. Sebutkan salah satu (atau beberapa) konflik yang muncul dalam kehidupan persekutuan jemaat Saudara dan dalami apa yang menjadi akar persoalan dari konflik tersebut? Bagaimana solusinya?
  2. Menurut Saudara apa yang menjadi kunci penyelesaian suatu konflik atau persoalan dalam kehidupan jemaat (bergerja)? Jelaskan! (SNP)

Check Also

Pengharapan Kepada Yesus Memberi Hidup Sesungguhnya

1 Korintus 15: 12– 20 Ayat– ayat di dalam 1 Korintus pasal 15 ini, khususnya …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *