Home / Renungan / KEMALASAN: KETIKA TIDAK MAU BELAJAR DARI HAL KECIL (SEMUT)

KEMALASAN: KETIKA TIDAK MAU BELAJAR DARI HAL KECIL (SEMUT)

Amsal 6:6-8; 30:2

Siapa yang menyangka bahwa kehidupan semut dapat menjadi contoh bagi kehidupan manusia. Semut merupakan salah satu spesies hewan dengan bentuk kecil namun ia dapat memberikan pembelajaran yang amat besar. Faktanya, hewan yang sering kita anggap sebagai pengganggu, yang hadir di dalam maupun di pekarangan rumah, mempunyai 15.000 spesies (jenis). Mereka hidup dalam sistem koloni dan setiap koloni terdiri dari beberapa peran dan tugas. Sang ratu bertugas memproduksi telur yang jumlahnya ribuan; semut pekerja bertugas mencari makan, menjaga telur, dan menjaga koloni; semut tentara bertugas menjaga sarang.  Hewan yang satu ini mempunyai filosofi “bekerja hari ini untuk masa depan.”

Filosofi tersebut yang menarik perhatian ‘sang bijak,’ yaitu Salomo. Dalam kitab Amsal kata ‘semut’ dipakai dua kali (Amsal 6:6, 30:25).  Bagi Salomo, etos kerja semut dapat menjadi cerminan bagi kita dalam menjalani kehidupan ini. Dalam Amsal dijelaskan bahwa semut sadar akan keberadaannya dan kebutuhannya. Ia berinisiatif untuk bekerja tanpa diperintah, dan ia antisipatif karena jika ia tidak bekerja maka ia tidak akan bisa makan di musim dingin/hujan. Oleh karena etos kerja sang semut, Salomo mengklaim bahwa semut adalah salah satu hewan terkecil namun cekatan (cerdik, tangkas, tanggap) (lih. Amsal 30:24). Pemikiran Salomo tersebut menjadi alat kritik untuk ‘si pemalas.’ Dalam Alkitab King James Version, kata pemalas diterjemahkan sluggard, yang artinya bukan hanya tertuju kepada seseorang yang ‘tidak mau berbuat apa-apa’ namun juga tertuju kepada seseorang yang ‘lalai.’

Di dalam kehidupan ini, kita pasti pernah berada di titik jenuh. Bersyukur kalau kita bisa beranjak dari titik jenuh tersebut dan kembali berupaya (kembali menjalani kehidupan). Tidak jarang kejenuhan berbuah kemalasan terjadi. Misalnya saja, malas bekerja karena sudah bekerja sekian lama namun gaji tidak naik-naik, malas berdoa karena sudah lama meminta namun tidak ada wujud nyata, atau malas bergereja karena aktifitas di luar lebih menyenangkan. Itulah contoh sederhana yang mungkin pernah kita alami atau tanpa sadar saat ini sedang kita alami. Akan tetapi, pada kesempatan kali ini kita diingatkan kembali, bahwa ketika kita tidak melakukan sesuatu yang memang seyogyanya kita lakukan di dalam kehidupan ini maka bukankah kita sedang melalaikan apa yang diberikan dan dipercayakan Allah. Pemberian dalam bentuk kehidupan, pekerjaan, ataupun keluarga.

Biarlah apa yang dikatakan oleh Salomo menjadi sebuah kritik yang pedas namun membangun. Maka dari itu, mari kita belajar dari si kecil semut, meskipun kecil namun menggigit. Tidak pernah lelah walaupun makanan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit. Rasa malas pun tidak pernah tebersit.

Pertanyaan

  1. Faktor apa yang membuat kita menjadi seorang yang malas di dalam lingkup pekerjaan, gereja, atau keluarga?
  2. Jika kita mengetahui bahwa orang terdekat atau orang disekitar kita mempunyai sikap malas, apa yang dapat kita lakukan untuk mengubah sikap tersebut? (HSW)

Check Also

Pengharapan Kepada Yesus Memberi Hidup Sesungguhnya

1 Korintus 15: 12– 20 Ayat– ayat di dalam 1 Korintus pasal 15 ini, khususnya …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *