Home / Renungan / TEMPAT PENDEWASAAN ROHANI DIMULAI DARI KELUARGA

TEMPAT PENDEWASAAN ROHANI DIMULAI DARI KELUARGA

2 Timotius 3:10-17

Hidup di dunia ini akan semakin sukar di tengah maraknya berbagai pengaruh melalui media sosial yang sulit kita bendung. Ada banyak paham-paham dunia dan tantangan yang akan dihadapi sehingga memerlukan dasar iman yang kuat untuk tetap hidup sebagai anak Tuhan. Keluarga merupakan tempat dimana proses kehidupan seseorang di mulai. Keluarga merupakan tempat dimana anak-anak seharusnya mendapatkan bekal secara rohani. Peran orang tua dalam mendidik anak-anaknya sangat diperlukan untuk meletakkan dasar-dasar iman. Dasar-dasar iman inilah yang digunakan dalam menghadapi tantangan kehidupan sehingga dapat tetap hidup berpegang pada kebenaran.

Bahan Alkitab yang kita baca merupakan surat terakhir Paulus sebagai seorang bapak rohani kepada Timotius, anak rohaninya sebelum masa pelayanannya berakhir karena hukuman mati yang sudah menantikannya. Paulus mengingatkan mengenai peran keluarga dalam mengajarkan dan menanamkan kebenaran kepada Timotius yang menjadi bagian penting dalam proses pendewasaan rohani Timotius dan menuntunnya dalam iman kepada Kristus Yesus. Ada 3 hal penting yang dapat kita pelajari dari bacaan hari ini, yaitu:

1.Teladan rohani (ayat 10-12)

Timotius mengikuti Paulus dalam pelayanan misi (Kisah Para Rasul 16:3) dan memiliki hubungan yang sangat dekat seperti bapak dengan anak. Paulus sebagai bapak rohani Timotius telah memberikan teladan dalam hal ajaran, cara hidup, pendirian, iman, kesabaran, kasih, dan ketekunan. Hal itu juga yang kemudian diikuti oleh Timotius termasuk dalam menghadapi penderitaan. Paulus menegaskan kembali bahwa setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan mengalami aniaya dan mereka sudah mengalaminya bersama dan dapat melewatinya karena memiliki keyakinan iman dalam Kristus Yesus. Dalam bagian sebelumnya Paulus juga memberikan nasehat untuk tetap kuat dalam menghadapi penderitaan (2 Timotius 2:1-13)

Tidak mudah untuk dapat bertahan hidup dalam iman kepada Yesus Kristus di tengah dunia yang tidak percaya. Teladan hidup dari seorang yang kita anggap dekat dan sekaligus menjadi pembimbing atau bapak/ibu rohani akan menolong kita untuk dapat bertahan dengan saling menguatkan satu sama lain. Kita juga memerlukan orang lain untuk dapat sama-sama bertumbuh dalam iman. Baik secara pribadi maupun dalam persekutuan (bandingkan dengan Ibrani 10:23-25)

2.Waspada terhadap penyesatan (ayat13)

Timotius diingatkan Paulus akan bertambahnya orang jahat dan penipu yang akan bertambah jahat dan menyesatkan serta disesatkan. Paulus pun mengingatkan Timotius akan banyaknya penyesat yang senang bersilat kata/berdebat dan menyimpang dari kebenaran serta menjauhkannya dari kasih Kristus (2 Timotius 2:14-19).

Jika orang yang sudah jelas-jelas jahat kita dapat waspada tetapi persoalannya saat ini ada begitu banyak pengajaran yang kelihatannya baik dan penuh hikmat tetapi justru membuat kita tidak lagi memiliki iman kepada Yesus Kristus dan menyesatkan. Oleh sebab itu hati-hatilah dan ujilah segala sesuatu, apakah itu berpusat kepada Yesus Kristus atau hanya hikmat dunia yang tidak memiliki nilai kekekalan.

3.Peran keluarga dalam menanamkan kebenaran (ayat 14-17)

Timotius sudah sejak kecil mengenal Kitab Suci. Paulus ingin agar Timotius tetap teguh dalam iman dan berpegang pada kebenaran yang telah diajarkan oleh neneknya dan ibunya. Ibunya Timotius adalah seorang Yahudi dan telah percaya sedangkan ayahnya seorang Yunani. (Kisah Para Rasul 16:1). Paulus mengatakan bahwa Timotius memiliki iman yang tulus iklas seperti yang dimiliki oleh neneknya Lois dan ibunya Eunike (2 Timotius 1:5). Apa yang sudah diajarkan oleh neneknya dan ibunya menjadi dasar keyakinan iman Timotius. Kitab suci yang menjadi pegangan hidup Timotius itulah yang memberikan banyak manfaat bagi kehidupan Timotius seperti yang diungkapkan oleh Paulus di ayat 16 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran”. Timotius memang mendapatkan banyak peneguhan dalam keyakinannya kepada Allah dan membawanya dalam iman kepada Yesus Kristus melalui Paulus akan tetapi dasarnya sudah diletakkan dalam keluarga oleh neneknya dan ibunya.

Peran orang tua juga nenek dan kakek di dalam keluarga menjadi sangat penting dalam meletakan dasar iman sehingga pendewasaan iman seseorang akan terus dilanjutkan melalui peran guru sekolah minggu, pembina remaja/pemuda juga Pendeta. Dari sejak kecil anak sudah diajarkan firman Tuhan di dalam keluarga sehingga dapat menjadi bekal untuk kehidupan selajutnya. Firman Tuhan yang akan menjadi penjaganya seperti yang diungkapkan dalam Mazmur 119:9 “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu”. Orang tua perlu menyediakan waktu khusus untuk mengajarkan kebenaran firman Tuhan kepada anak-anaknya dari sejak dini. Inilah investasi kekekalan bagi anak-anaknya dan tidak akan ada yang dapat merebutnya (Roma 8:38-39)

Seseorang yang memiliki iman yang teguh tidak diperoleh secara cepat atau instan tetapi melalui proses yang cukup panjang dan tidak mudah. Keluarga merupakan tempat dimana proses pertumbuhan iman dimulai. Berdasarkan teori psikologi tentang pertumbuhan hidup manusia, masa anak-anak adalah masa yang baik untuk menanamkan nilai-nilai hidup yang akan dibawanya sampai dewasa bahkan sampai mati. Itu sebabnya ada pendapat yang menyatakan bahwa anak-anak usia 0-5 tahun adalah usia emas. Di usia anak-anak inilah perlu diisi dengan bekal hidup yang bernilai kekekalan yaitu iman kepada Yesus Kristus. Paulus melaksanakan perannya dalam pendewasaan iman Timotius dengan baik karena sudah ada dasar yang diletakkan oleh neneknya Lois dan ibunya Eunike. Demikian pula halnya dengan guru sekolah minggu, pembina rema/pemuda dan Pendeta akan dapat melanjutkan proses pendewasaan iman jemaat jika dasarnya sudah diletakkan dengan baik di dalam keluarga

Pertanyaan:

  1. Apa yang menyebabkan gagalnya pembinaan iman yang dilakukan oleh keluarga terhadap anak-anaknya sehingga ketika anak-anak dewasa dapat dengan mudah meninggalkan iman kepada Yesus Kristus?
  2. Anak-anak adalah generasi penerus. Bagaimana cara mendidik anak-anak di keluarga supaya menghasilkan generasi yang memiliki kedewasaan secara rohani dan memiliki iman yang teguh? (RCM)

Check Also

Pengharapan Kepada Yesus Memberi Hidup Sesungguhnya

1 Korintus 15: 12– 20 Ayat– ayat di dalam 1 Korintus pasal 15 ini, khususnya …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *