Home / Renungan / BIARLAH SEMUANYA MEMUJI-MUJI TUHAN

BIARLAH SEMUANYA MEMUJI-MUJI TUHAN

Mazmur 148 : 1-14

Suatu hari ada sepasang suami istri yang baru selesai mengikuti kebaktian di gereja. Di tengah perjalanan, sang suami mengomentari jalannya kebaktian. Ia mengatakan bahwa alunan musiknya terlalu lambat, kantoria pun tidak bersemangat saat menyanyi, khotbahnya terlalu panjang, monoton pula dan banyak sekali komplain lainnya yang disampaikan. Lalu sang istri pun menyambut komentar suaminya dengan mengatakan “ya, tidak apa-apa pah, yang penting kita telah memberikan persembahan dan dapat berjumpa dengan orang lain sehingga mereka tahu kalo kita ada pergi kebaktian.”

Saudara, apa jawaban saudara ketika ada seseorang bertanya kepada saudara: untuk apa saudara berkebaktian di gereja? Apakah pengalaman suami dan istri di atas menjadi pengalaman saudara juga? Ada banyak motivasi yang berkembang saat kita berkebaktian. Mungkin ada yang mengatakan bahwa berkebaktian itu untuk memuji Tuhan, mendengarkan firman dan mendapatkan berkat, atau mungkin ketika seseorang berkebaktian memiliki motivasi lain. Setiap kita pasti memiliki jawaban ideal tentang tujuan berkebaktian. Setidaknya tujuan yang pasti adalah untuk memuji Tuhan. Memuji Tuhan adalah alasan real.

Mazmur yang kita baca pada saat ini mengajak kita untuk mengingat Sang Pencipta yang layak dipuji oleh segenap ciptaan-Nya. Segenap ciptaan-Nya meliputi yang sorgawi dan duniawi. Mazmur menyebut pujilah Tuhan di sorga (ay. 1) meliputi malaikat dan tentara-Nya. Semuanya dipanggil untuk memuji karena Tuhan adalah Pencipta mereka. Pujian juga harus naik kepada Tuhan dari bumi (ay. 7) mencakup kedalaman dan makhluk-makhluknya, kekuatan-kekuatan alam, dunia jasad dengan flora dan fauna dan keseluruhan penduduk manusia. Panggilan untuk memuji bertumpu pada sesuatu yang sungguh di sorga -pemuliaan Tuhan yang tunggal dan unggul (ay.13)- dan sesuatu yang sungguh benar di atas bumi -penetapan suatu umat yang adalah milik-Nya yang telah dijadikan penerima kasih-Nya dan ditarik dekat pada-Nya.

Tuhan layak untuk di puji dan ditinggikan karena Dia sang Pencipta. Manusia memuji Tuhan bukan untuk meninggikan dan menampilkan diri sendiri. Bagaimana dengan puji-pujian kita? Bukan sekedar bertanya “untuk apa kita beribadah kepada Tuhan?” tetapi bertanyalah, sudahkah kita beribadah kepada Tuhan dengan tujuan untuk memuji-muji nama Tuhan dengan ketulusan dan kejujuran diri kita? Jangan sampai kita beribadah justru untuk menampilkan keberadaan dan keakuan diri kita dihadapan orang lain apalagi di hadapan Tuhan. Bukan pula untuk mengomentari banyak hal yang terjadi sehingga esensi dari ibadah itu menjadi tergeserkan bahkan tidak sama sekali diutamakan.

Pertanyaan
Bagaimana dengan ibadah-ibadah kita? Sudahkah kita memiliki tujuan yang sama saat kita beribadah?
Menurut saudara, apa yang harus kita lakukan supaya ibadah dan puji-pujian kita berkenan di hadapanNya? (YSW)

Check Also

Pengharapan Kepada Yesus Memberi Hidup Sesungguhnya

1 Korintus 15: 12– 20 Ayat– ayat di dalam 1 Korintus pasal 15 ini, khususnya …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *