Home / Renungan / “Sukacita yang Mendahului Dukacita ”

“Sukacita yang Mendahului Dukacita ”

Matius 21:1– 11

 Ada satu pepatah cukup terkenal yang mengatakan demikian:

Berakit– rakit dahulu, berenang– renang ketepian

Bersakit– sakit dahulu, bersenang– senang kemudian

Pepatah ini hendak memberi nasehat bahwa kesenangan atau kebahagian tidak dapat dicapai tanpa kerja keras. Sebaliknya dengan kisah Yesus masuk ke Yerusalem. Ia dielu– elukan dahulu namun menerima penderitaan kemudian.

Kisah perjalanan Yesus dan murid– murid– Nya ke Yerusalem nampaknya dalam persiapan menjelang perayaan Paskah. Bersama dengan banyak orang lain (sebagian besar laki– laki) rombangan itu berjalan dari Yeriko ke Yerusalem. Mereka harus mendaki bukit Zaitun lalu kemudian turun; dua kampung terletak di Bukit Zaitun, yaitu Betania dan Betfage (de Heer 2000, 406). Dalam perjalanan itu nampaknya Yesus kemudian memutuskan untuk melalkukan suatu demonstrasi untuk menunjukkan bahwa Ia adalah benar– benar Mesias, raja yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama, tetapi bukan dalam bentuk yang diharapkan oleh orang Yahudi (de Heer 2000, 407). Ia datang tidak memakai kuda sebagai panglima perang, namun sebagai raja damai yang menunggangi keledai muda.

Yesus meminta dua orang murid-Nya untuk berjalan ke desa yang berada di depan mereka, yaitu Betfage. Disana para murid akan menemukan sebuah rumah dengan keledai yang masih muda dan pemiliknya akan melepaskan keledai itu dipakai oleh Yesus. Kemudian terjadilah persis seperti yang dikatakan oleh Yesus. Para murid kemudian membuat jubah mereka menjadi pelana di atas keledai itu lalu Yesus naik keatasnya. Kemudian orang banyak menghamparkan pakaian mereka dan daun– daun palem sebagai tanda penghormatan kepada Yesus, sang Mesias. Hal ini dinyatakan melalui jawaban yang diberikan kepada orang yang bertanya siapakah yang disambut itu.

Kedatangan Yesus ke Yerusalem disambut dengan sukacita bagaikan seorang raja. Namun kita tahu Bersama bahwa sambutan itu tidak berlangsung lama. Tiga hari kemudian,Yesus yang disambut dengan gegap gempita itu digiring dalam suatu jalan via dolorosa, jalan salib. Kekaguman dan pengharapan mereka akan Yesus sebagai Raja orang Yahudi berganti dengan teriakan agar Yesus disalibkan. Pada minggu yang akan datang kita akan melanjutkan pembacaan kita dalam ingatan akan Kristus yang menderita itu. Penderitaan yang Dia tanggung karena tidak mau manusia masuk ke dalam maut yang kekal, melainkan agar manusia diselamatkan dan menerima hidup kekal.

Sukacita dan dukacita, kesengsaraan dan penderitaan adalah dua sisi keping mata uang kehidupan manusia. Sebagai manusia kecenderungan kita adalah menerima yang senang saja dan mau menghindari yang susah. Hal yang seperti itu bukanlah cara hidup seorang yang percaya kepada Allah. Seorang yang percaya kepada Allah selalu menyiapkan dirinya untuk segala situasi dan keadaan. Ketika Allah mengijinkan ia mengalami kesenangan, maka ucapan syukurlah yang disampaikan. Sebaliknya, jika ia mengalami kesusahan dan penderitaan maka permintaan pertolonganlah yang dinaikan.

Seorang yang percaya kepada Kristus harus selalu menghindarkan dirinya dari mencari jalan pintas untuk mendapatkan kesenangan apalagi ketika kesenangan itu dapat membawa dosa. Misalnya seorang pegawai yang ingin cepat kaya, ia memilih untuk korupsi daripada bekerja dengan jujur dan memberikan yang terbaik tidaklah cocok disebut sebagai orang percaya sebab ia tidak tahan penderitaan dan mau jalan yang mudah saja.

Pertanyaan

  1. Menurut saudara, apa yang membuat manusia tidak tahan dalam penderitaan?
  2. Sebagai orang percaya, sikap apa yang harus dikembangkan ketika berada dalam penderitaan? (RGS)

 

 

Check Also

KEBAKTIAN RUTIN

  Tanggal Bahan Tempat Liturgos Pelayan Firman KEBAKTIAN PRIA Selasa, 19 FebPkl. 18.00 WIB 2 …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *