Home / Renungan / Setelah Genap Waktunya

Setelah Genap Waktunya

“Setelah Genap Waktunya”

Galatia 4:4-7

Pergantian tahun selalu menghadirkan pertanyaan reflektif: “semakin dewasakah aku ini?” Perenungan seperti ini secara seksama terus terpikirkan baik saat peringatan tanggal kelahiran maupun saat peringatan tahun baru. Momen-momen malam pergantian tahun membuat banyak orang melakukan perenungan baik secara pribadi maupun bersama keluarga atau sahabat. Kita baru saja melewati pergantian tahun 2017 dan memasuki tahun 2018. Hasil perenungan itu kiranya akan menuntun kita menjalani hari-hari di sepanjang tahun ini dalam kedewasaan. Namun demikian, perenungan kita berlanjut dalam KRT/KTM ini, melalui teks Galatia 4:4-7.

Teks perikop ini mengingatkan kita dengan menggunakan kata ‘akil balig’ (ay. 1, 3) sebagai titik tolak perubahan dan pembaruan hidup. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ‘akil balig’ berarti ‘dewasa, cukup umur, cukup akalnya, tahu membedakan baik dan buruk, dan berumur kira-kira 15 tahun ke atas’. Jika dikaitkan dengan perkembangan iman menurut James W. Fowler, usia akil balig dimulai pada tahap yang dinamakan ‘Iman Sintetis-Konvensional’. Pada tahapan ini, seorang anak (remaja) yang beranjak dewasa memiliki kecakapan memberi arti. Mereka sanggup “merefleksikan secara kritis riwayat hidupnya dan menggali arti sejarah hidupnya.” Inilah saatnya seorang anak (remaja) mulai mengikatkan dirinya berelasi dengan lingkungan dan dengan Allah yang “personal”.1

Teks bacaan saat ini juga dimulai dengan anak kalimat “setelah genap waktunya” (ay. 4). Teks ini ingin menunjuk kepada Yesus sebagai Anak Allah, yang telah memulai karya-karya dalam sejarah hidup-Nya, dalam kedewasaan (sudah akil balig). Kegenapan waktu yang dimaksud adalah saat momentum kedewasaan dimiliki, saat itulah karya bagi dunia dan relasi pribadi-ilahi Allah Tritunggal dinyatakan. Dalam Galatia 4:5-6 itulah tampak diperlihatkan karya “utuh” dan “bersama-sama” dari Allah Tritunggal. Dengan demikian, Yesus dipahami sebagai pribadi dewasa yang memberi keteladanan bagi kita untuk menghayati kedewasaan dan mulai mengerjakan segala sesuatu menjadi utuh (genap) dan bersama dengan yang lain.

Gereja adalah anak-anak Allah yang terus beranjak dewasa untuk mengerjakan karya Allah bagi dunia sampai kegenapan waktu-Nya. Dan, dalam tahapan iman yang paripurna, sesungguhnya seseorang akan kembali kepada Allah – yang telah mewariskan pengutusan – supaya kita mengingat orang lain yang membutuhkan pembebasan hidup dimanapun dan kapanpun (ay. 5). Dengan demikian, anak-anak Allah tidak hanya berhenti merenung sampai dimana tingkat kedewasaannya, melainkan menyarikan arti hidupnya untuk berkarya secara utuh, genap, paripurna, dan sempurna bagi sesama. Sampai kegenapan waktu itu tiba, maka “teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun” (lih. Gal. 4:10).

Pertanyaan Pendalaman:

  1. Ceritakan menurut Anda, apa arti kedewasaan?
  2. Setelah merenungkan teks Alkitab ini, apa yang Tuhan minta kepada Anda dalam kedewasaan itu?

 

Pdt. Leonard Bayu L. Dalope

 

Check Also

KEBAKTIAN RUTIN

  Tanggal Bahan Tempat Liturgos Pelayan Firman KEBAKTIAN PRIA Selasa, 19 FebPkl. 18.00 WIB 2 …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *